ARTIKEL KESEHATAN
MENJALIN KOMUNIKASI PERAWAT DENGAN LANSIA
Disusun Oleh :
JUWITA,S.Kep. Ners
Komunikasi merupakan kebutuhan bagi setiap orang dalam kehidupan sehari-hari untuk melakukan interaksi dengan orang lain bahkan dengan dirinya sendiri. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator terhadap komunikan yang akan menimbulkan efek atau akibat. Dalam studi Ilmu Komunikasi juga terdapat Model dan Level Komunikasi. Salah satu model komunikasi ini dimulai dengan interaksi dua individu yang berkomunikasi. Menurut Wilbur Schramm “komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya tiga unsur: sumber (source), pesan (message), dan sasaran (destination). Komunikasi Interpersonal merupakan komunikasi antara orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun secara non verbal. Dalam melakukan komunikasi interpersonal diperlukan kedekatan dan keterbukaan untuk menjalin komunikasi yang baik. Keberhasilan komunikasi menjadi tanggung jawab pelaku komunikasi tersebut.
Dalam kehidupan sehari-sehari untuk menunjang aktivitas tentunya perawat dan lansia melakukan komunikasi yang dalam konteks ini komunikasi interpersonal. Pelaku komunikasi tersebut ialah perawat yang ada di Panti Jompo. Perawat adalah orang terdekat yang berinteraksi secara langsung dengan lansia. Seseorang dapat dikatakan lansia ketika telah mencapai usia lebih dari 60 tahun ke atas, berdasarkan undang – undang nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia (http://www.depkes.go.id/).
Sekarang ini banyak orang tua atau lansia yang dititipkan di panti jompo yang dikarenakan keterbatasan ekonomi serta faktor sosial juga mempengaruhi orang tua banyak menuntut anak, dan sang anak tidak sanggup memenuhi keinginan tersebut. Sebuah tempat yang spesifik untuk kesehatan lansia adalah rumah jompo. Lansia yang tinggal di panti jompo memiliki kondisi yang membuat mereka tergantung pada bantuan dari panti tersebut, misalnya obat-obatan, kebersihan dan kegiatan sosial . Menurut Kartinah dan Sudaryanto (2008) masalah yang muncul pada lansia “Umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor”. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain, sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (kognitif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan . Perawat mengeluhkan masalah hambatan bahasa, kurangnya kemauan untuk mendengarkan, dan masalah logistik). Selain itu muncul perasaan kurang semangat, motivasi, rasa percaya diri dan rasa kurang dihargai. Hal – hal tersebut membuat para lansia yang tinggal di panti jompo merasa tidak nyaman.
Perawat juga berperan penting dalam membentuk kedekatan, karena dalam keseharian lansia di panti jompo perawat selalu berkomunikasi langsung dengan lansia dan memahami bagaimana kondisi lansia tersebut. Namun pada kenyataannya untuk dapat membangun dan menjalin komunikasi yang baik dengan para lansia tidaklah mudah, disebutkan bahwa kondisi fisik maupun mental menjadi halangan dalam berkomunikasi, seperti gangguan pendengaran membuat perawat harus berulang-ulang menyampaikan pesan dengan sabar dan berhati-hati. Kendala lainnya seperti sulit memahami dan mengerti apa yang diinginkan lansia. Kebanyakan lansia tidak mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri, karena perilaku lansia cenderung berubah seperti anak kecil. Peran seorang perawat penting guna membantu para lansia dalam merubah perilaku kesehariannya menjadi lebih baik. Seorang perawat juga harus pandai dalam memilih suatu keputusan. Pengambilan tindakan atau keputusan tidak harus berdasarkan fakta medis yang ada melainkan harus mempertimbangkan nilai-nilai dan keinginan pasien itu sendiri. Dengan demikian lansia akan merasa bahwa dirinya mendapat perhatian dan rasa dihargai .
Perasaan nyaman lansia di panti jompo dipengaruhi oleh komunikasi yang dilakukan perawat dalam proses aktivitas yang dilakukan antara perawat dengan lansia. Seperti yang dikatakan Khisoli (2016) mengatakan bahwa, seseorang yang dititipkan di panti jompo biasanya akan menganggap dirinya tidak berguna lagi dan merasa terbuang. Seorang lansia yang baru masuk ke lingkungan baru akan merasa sulit untuk beradaptasi. Hal tersebut diperlukan adaptasi dan penyesuaian diri dengan kondisi di panti jompo agar merasa aman dan nyaman. Disinilah peran perawat di panti jompo dibutuhkan, perawat harus mampu membantu lansia untuk beradaptasi dengan lingkungan panti dengan membangun kedekatan yang baik dengan para lansia. komunikasi interpersonal yang baik menjadi hal yang penting dalam interaksi yang dilakukan oleh perawat terhadap lansia. Komunikasi yang baik antara perawat dengan lansia sangat diperlukan untuk membentuk hubungan baik, kedekatan, kepercayaan, keterbukaan, dan kenyamanan lansia dalam kehidupan sehari – hari.
- Komunikasi pada lansia
Dalam komunikasi dengan lansia harus diperhatikan faktor fisik, psikologi, (lingkungan dalam situasi individu harus mengaplikasikan ketrampilan komunikasi yang tepat. disamping itu juga memerlukan pemikiran penuh serta memperhatikan waktu yang tepat.
1. Ketrampilan komunikasi
Listening/Pendengaran yang baik yaitu :
a. Mendengarkan dengan perhatian telinga kita.
b. Memahami dengan sepenuh hati, keikhlasan dengan hati yang jernih.
c. Memikirkan secara menyeluruh dengan pikiran jernih kita
2. Teknik komunikasi dengan lansia
a. Teknik komunikasi dengan penggunaan bahasa yang baik
Kecepatan dan tekanan suara yang tepat dengan menyesuaikan pada topik pembicaraan dan kebutuhan lansia,berbicara dengan lansia yang dimensia dengan pelan.tetapi berbicara dengan lansia demensia yang kurang mendengar dengan lebih keras hati-hati karena tekanan suara yang tidak tepat akan merubah arti pembicaraan,pertanyaan yang tepat kurang pertanyaan yang lansia menjawab ya atau tidak.
Berikan kesempatan orang lain untuk berbicara hindari untuk mendominasi ,pembicara sebaiknya mendorontg lansia untuk berperan aktif ,Merubah topik pembicaaraan dengan jitu menggunakan objek sekitar untuk topik pembicaraan bila lansia tidak interest lagi
Contoh : siapa yang membelikan pakaian bapak/ibu yang bagus ini?
Gunakan kata-kata yang sederhana dan konkrit gunakan makan satu buah setelah makan dari pada menggunakan makanan yang berserat. Gunakan kalimat yang simple dan pendek satu pesan untuk satu kalimat.
3. Teknik nonverbal komunikasi
a. Perilaku : ramah tamah, sopan dan menghormati, cegah supaya tidak acuh tak acuh, perbedaan.
b. Kontak mata : jaga tetap kontak mata
c. Expresi wajah : mereflexsikan peraaan yang sebenarnya.
d. Postur dan tubuh : mengangguk, gerakan tubuh yang tepat, meletakan kursi dengan tepat. Sentuhan : memegang tangan, menjbat tangan.
4. Teknik untuk meningkatkan komunikasi dengan lansia
a. Memulai kontak saling memperkenalkan nama dan berjabat tangan.
b. Bila hanya menyentuh tangannya hanya untuk mengucapaka pesan-pesan verbal dan merupak metode primer yang non verbal.
c. Jelaskan tujuan dari wawancara dan hubungan dengan intervensi keperawatan yang akan diberikan.
d. Mulai pertanyaan tentang topik-topik yang tidak mengancam.
e. Gunakan pertanyaan terbuka dan belajar mendengar yang efektif.
f. Secara periodic mengklarifikasi pesan.
g. Mempertahankan kontak mata dan mendengar yang baik dan mendorong untuk berfokus pada informasi.
h. Jangan berespon yang menonjolkan rasa simpati.
- Teknik pendekatan dalam Perawatan lansia pada konteks komunikasi
Teknik pendekatan dalam perawatan lansia pada konteks komunikasi antara lain melalui:
a. Pendekatan fisik
Mencari kesehatan tentang kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian yang di alami, perubahan fisik organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa di capai dan di kembangkan serta penyakit yang dapat di cegah progresifitasnya.
b. Pendekatan psikologis
Pendekatan ini bersifat abstrak dan mengarah pada perubahan perilaku, maka umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama. Untuk melaksanakan pendekatan ini, perawat sebagai konselor, advokat terhadap segala sesuatu yang asing atau sebagai pena,pung masalah pribadi dan sebagai sahabat yang akrab bagi klien.
c. Pendekatan social
Pendekatan ini dilaksanakan meningkatkan keterampilan berinteraksi dengan lingkungan. Mengadakan diskusi tukar fikiran bercerita serta bermain merupakan implementasi dari pendekatan ini agar klien dapat berinteraksi dengan sesama lansia maupun dengan petugas kesehatan,
d. Pendekatan Spiritual
Perawat harus bisa memberikan kepuasan batin dalam hubungannya dengan tuhan atau agama yang di anutnyaterutama pada saat klien sakit atau mendekati kematian.
DAFTAR PUSTAKA
http://eprints.ums.ac.id/57170/1Skripsi FORMAT PERPUS.pdf (ums.ac.id)
https://www.ilmARTIKEL KESEHATAN

